Bernafaslah untukku,kakak,abang dan ayahmu

BERNAFASLAH UNTUKKU, KAKAK, ABANG, DAN AYAHMU

Anakku sayang teruslah belajar bernafas walau rongga tenggorok bunda sudah menyempit karena sesak mengingat segala yang dia perlakukan padamu

Tanganku tak pernah berhenti membelaimu, seperti lautan yang terbelai oleh buih, seperti bumi yang terselimuti oleh hujan. Kabut tebal menandakan sebuah balutan hangat yang selalu menemani hari hari kita.

Anakku sayang,,,,

Hidup memang adalah pilihan, ketika kita memilih kita pun harus dihadapkan lebih dari dua pertimbangan masak. Aku, kamu dan ayahmu adalah juga pilihan, pilihan manusia manusia yang di beri anugerah dan amanah atas hadirmu. Kami sangat bahagia ketika tahu kalau dirimu mulai hadir dalam perutku, hari hari termanjakan oleh sebuah sikap yang mampu mengusir semua isi bumi untuk hengkang ke planet lain. Serasa aku, kamu dan ayahmu saja yang layak tinggal disini.

Harimu selalu menjadi perhatian ayahmu, baik sehatmu atau sakitmu kami selalu panik.

Semakin besar dan semakin besar usia kandunganku, semakin berubah ternyata pelangi tak selalu ada, ternyata awan tak selalu bersatu dengan birunya langit, bisa lebih dominan menguasai langit dan menghasilkan hujan atau dominan menguasai awan hingga menjadi cerah.

Keyakinanku semakin bertambah dari hari ke hari.

Yakin apa?

Yakin kalau tak selamanya hujan akan membasahi bumi, yakin jika matahari tak selamanya membakar bumi, karena ada satu hari dimana hujan dan matahari akan bersatu dan membias menjadi pelangi yang penuh warna.

Anakku sayang,,,

Tetaplah sehat untuk kami, tunjukkan pada dunia jika engkau adalah intan yang walaupun terbenam dalam lumpur tetaplah menjadi intan.

Anakku sayang,buah hati bunda,,,

Berikan yang terbaik untuk dunia, cakaplah dan selalu bijak dalam berperilaku jangan pernah menyimpan dendam, buatlah orang yang menyakitimu mampu untuk sadar bahkan mampu untuk bermuhasabah bahwa sikapnya akan memberatkan khisabnya dunia dan akhirat.

Anakku sayang teruslah belajar bernafas walau rongga tenggorok bunda sudah menyempit karena sesak mengingat segala yang dia perlakukan padamu.

Ingat nak!!!

Walau hidup adalah sebuah kompromi tapi aku janji untukmu tak ada kompromi dariku, apapun akan aku tempuh demi bahagiamu, bahagia kakak, bahagia abang. Kalian permata hatiku yang selalu kusebut dalam setiap doaku, selalu kepeluk dalam dinginnya malam, yang selalu ku gandeng ketika takut menyelimuti.

Jangan khawatir nak, jangan takut, sehebat hebat manusia dia tercipta hanya dari seonggok tanah, setetes nutfah pasti akan berubah dan mati.

Iklan

Tak Sekeping Dinarpun Ku Pinta Darimu

TAK SEKEPING DINARPUN KU PINTA DARIMU

“Aku tak pernah meminta apapun darimu, kecuali aku pinta kau dengan hatimu untuk anakku”

Bertemu kamu adalah bagian yang tak pernah lekang dari otakku. Tak sedikitpun aku menyimpan ragu tentangmu. Tangan ini pernah menyuapimu, tangan ini pernah memandikan tubuhmu, tangan ini pernah dengan tulus menggandengmu tanpa keraguan. Begitupun tanganmu, pernah menjadi sandaran kepalaku, pernah membelai setiap lekuk dalam tubuhku, bahkan pernah menjadi sebegitu lembut menggandengku dalam ketulusan cinta.

Sekeping dinar tak pernah aku pinta darimu, sekeping dinar tak pernah masuk dalam kantongku, sekeping dinar tak pernah menuntut dan memberatkan pundakmu.

Aku tahu hakku,,,

Tapi mengapa Kau sakiti diriku sekeji ini? kau buat luka yang teramat menyayat dalam benak? kau ubah takdir hidupku bak bumi terguyur hujan yang lalu basah seketika itu?

Kau,,manusia yang ku kenal dari sebuah keindahan, dari hangatnya pelukan, dan dari damainya cinta, tapi kau yang dengan tanpa hati tanpa rasa menjatuhkan aku sejatuh jatuhnya, kau lempar aku dari barisan serdadu siap tempur, kau tendang aku dari barisan pelangi seusai hujan, dan kau orang terkeji yang sudah memutuskan pengharapan, memutus tali nadi, memutus suara juga memutus batang tenggorok.

Tapi sayangnya….

Sampai detik inipun aku masih memaafkan segala khilafmu, masih dengan tulus tanpa ragu kalau dermaga itu akan selalu ada di depanku, aku akan terbebas dari gelombang lautan pasang, akan aku temui daratan bersamamu,bersama buah hati kita.

Tak kuharap kepingan dinar darimu, hanya untuk membeli bahagiaku, karena bahagiaku bukan “DINAR” melainkan engkau dengan segenap hatimu.

Jika Dendam Tidak Sekeji Ini

JIKA DENDAM TIDAK SEKEJI INI”

Akan aku buktikan, bagaimana dewasanya aku dalam menyikapi hal ini dan bukan anak kecil seperti yang kamu katakan dulu

Sebaris kalimat tidak cukup menghentikan deras air mataku, hanya saja setidaknya isi di dalamnya bisa tertumpahkan dengan lega.

Wahai engkau pemuda, betapa dulu belasan tahun yang silam semenjak engkau masih duduk di bangku sekolah lanjutan tingkat pertama sudah dulu engkau mengenalku. Engkau mulai utarakan apa yang menjadi ganjalan hatimu saat pertama melihatku, kau berikan sebait puisi jika kau dengan segenap hatimu mencintaiku. Tidak…tidak untuk saat itu aku mengkhianati rumah tanggaku, lalu tak kuhiraukan datangmu sampai pergimu.

Bertahun berlalu hingga pada akhirnya aku adalah sebatang kayu kering yang tergelatak di tanah lapang, yang orangpun enggan melihatku apalagi menyentuhku, kau datang kembali masih dengan hati yang sama. Kau utarakan kembali rasa yang dulu pernah kau ucapkan padaku. Memang kondisiku sudah berubah, aku sudah tidak terikat dalam pertalian apapun tapi prinsipku masih sama, aku pernah terluka oleh orang yang sama di kampungku, tidak mungkin rasanya aku menjatuhkan diriku dengan pria sekampung apalagi usia kita berjarak jauh. Tanpa patah semangat, seperti seorang seniman dengan cat dan kuas kau ingin sulap batangan kayu kering yang tergeletak.

Tak bergeming sedikitpun hati ini dengan sejuta rayuan gombalmu, semakin tak bersimpati diriku saat kau ceritakan pengalamanmu dengan banyak wanita disetiap perjalananmu. Tahukah engkau pemuda, tak akan ada bunga yang ingin dihinggapi ulat bulu walaupun si bunga tahu nantinya si ulat akan menjadi kupu kupu yang indah.

Bertahun sudah telah terlewati, aku dan dirimu memutuskan menjadi sahabat saja, walau terdengar menyakitkan untuk dirimu. Aku memiliki kehidupanku sendiri dan engkau memiliki kehidupanmu sendiri, sampai pada akhirnya engkau memutuskan untuk meminang seorang wanita yang sudah memperhatikan saat aku tak pernah mau ada disampingmu. Sungguh aku tidak pernah tahu jika kala itu engkau sakit, andai saja kau beritahu aku kalau dalam keadaan sakit mungkin aku tak akan setega itu membiarkan dirimu sendiri dengan rasa itu.

Engkau banyak cerita siapa wanita itu denganku, aku menguatkan dirimu untuk menerima dia apa adanya dengan segala kurang dan lebihnya. Hingga engkau kabari aku kalau kau akan menikahinya, aku tidak bisa datang ke pestamu bukan lantaran sakit hatiku tapi karena aku tidak enak hati, keluargamu pasti akan bertanya siapa aku?bagaimana bisa aku mengenalmu?itulah sebab mengapa hingga akhirnya engkau menikah aku tidak datang langsung mengucapkan congrats untuk dirimu.

Pertengahan tahun lalu aku kembali berhubungan denganmu, kukira engkau sahabatku yang dulu, engkau teman curhatku yang setia mendengar keluh kesahku. Tapi hubungan kita jauh dari itu, setelah pertemuan pertama denganmu lagi engkau dengan gagahnya menghisap nektarku, engkau janjikan buah yang akan tumbuh adalah buah yang akan kau nikmati dan kau jaga.

Sebulan lebih aku dan kamu menjalin sebuah hubungan yang tak tertiup angin, tak berbau asap. Bunga itu akhirnya berbuah, ku berikan sebuah pilihan untuk menjatuhkan buah ini dengan banyak pertimbangan tapi engkau tak menyetujuinya, engkau katakan jika saatnya buah itu harus masak dan engkau petik maka engkau akan menjaganya dengan baik dan bertangungg jawab sepenuhnya. Aku dengan rona wajah bak tersapu angin gunung ditutupi kabut terlihat bahagia dengan jawabnya.”Akan aku buktikan, bagaimana dewasanya aku dalam menyikapi hal ini dan bukan anak kecil seperti yang kamu katakan dulu” sebaris kalimat yang sangat menyejukkan.

Buah itu semakin besar dan baru engkau sadari apa yang menjadi pendapatku kala itu harusnya engkau indahkan dengan banyak pertimbangan diantaranya hubungan dengan istrimu. Sekarang engkau mengusulkan untuk memetik buah itu dan membuang jauh jauh, tidak mungkin diriku tak seadil ini untuk buah hatiku. Kupertahankan dan semakin kupertahankan, hingga akhirnya keputusan kejam terlontar dari bibirmu “tidak mungkin aku bertanggung jawab atas buah itu” tangisku tak engkau hiraukan, teriakku tak pernah engkau dengarkan hingga keputusasaanku bagimu hanya buih yang nanti akan kembali tenang.

Jika sikapku salah waktu itu pernah tidak menghiraukan rasamu, tidakkah seharusnya engkau tak sekeji ini, ini jalan hidupku, engkau hancurkan semua cita citaku,engkau hancurkan semua karierku,bahkan engkau putuskan pengharapan masa depan buah hati kita, tak terketukkah pintu hatimu untukku???setidaknya untuk buah hatimu???

Dendam???

Sedikitpun tak pernah terbersit membalas sakit hati ini, hanya dapat kupanjatkan doa pada Illahi agar segala dosa dosamu terampuni oleh Allah untukku dan untuk buah hati kita yang telah banyak menanggung pedih.

Hai laki lakiku, ayah anakku bermimpilah yang panjang, maka akan kau temukan mimpi itu berakhir pada keterkejutan bahwa kau sedang melakukan sebuah kesalahan yang teramat fatal, jangan engkau khawatirkan, pintu hatiku tak akan pernah tertutup untuk selalu memaafkan dirimu, anakku tak akan ku ajarkan menebar kebencian untuk dirimu, karena dia yang akan menggandengmu saat engkau tak tau jalan, dia yang akan mengantarmu dengan Syahadat ketika nafasmu berada diujung tenggorokan,dia yang akan membalutkan kafan dibadanmu ketika engkau harus menghadap sang Khalik, dan dia,,,dia adalah cahaya surga darimu, bukan hanya cahaya emas serta dia adalah anak tercinta yang sengaja diturunkan dari Singgasana Allah ( Arsy) untuk dirimu.

Kutunggu datangmu dengan segala kebaikanmu, bukan dengan kekejaman hatimu.

Surga itu pernah ku ambil

Kisahku : SURGA ITU PERNAH KU AMBIL

pi (papi itulah panggilanku kepadanya) kalau memang wanita itu hamil, dan mengandung anakmu, saya rela menjadi saudarinya, nikahilah dia dengan baik saya ikhlas menjadi istri pertama diantara istri2mu kelak

Lulusan program IPA 1 kala itu adalah lulusan yang paling disegani, apalagi nilai kimiaku lumayan di atas rata2 dari membuat rangkaian hingga uji coba ilmiah aku selalu tekuni. Di balik itu aku juga hanya gadis SMA seperti kebanyakan,punya pacar dong pastinya…kekasihku dulu ada 2 yang satu di sekolah,dia pria paling pintar di sekolahku walau tidak cakap sih (ngetik sambil senyum-senyum sendiri) dan yang satu adalah orang yg 6 tahun lebih dewasa dariku,dia sudah bekerja,dan dia juga yang akhirnya menjadi suamiku, dia yang pernah memberi tiket surga untukku.

Awal cerita sesaat setelah lulus sekolah saya dan dia menikah (maaf saya tidak menyebutkan nama,karena mempertimbangkan dia sudah berkeluarga sekarang dan kami sudah memiliki kehidupan masing2).

Saat itu kehidupan kami sangatlah romantis, semua kebutuhan saya tercukupi dari hal kecil hingga hal besar. Sampai pada akhirnya saya melanjutkan pendidikan saya setelah dikaruniai seorang putri yang cantik, seminggu sekali saya pulang dari kota Surakarta tempat dimana saya belajar, seminggu sekali itupula saya bertemu suami dan putri saya serta babysitter kami.

Banyak sekali laporan yang kuterima, dari perkembangan putriku, usaha suamiku juga hemmmmm perselingkuhan suami saya. Kala itu respon saya tidak banyak, hanya bisa bilang bahwa kesalahannya bagi saya wajar, saya selalu memaafkan semua salahnya karena satu pertimbangan adalah anak dan nama baik.

Menurut saya suami saya pun adil, dia selalu menceritakan apa yang terjadi ya walaupun setelah dia melakukan perselingkuhan di belakang saya. Maaf, beratus kali saya berikan maaf kepadanya.

sakit????

Wanita mana sih yang tidak sakit ketika mendengar suaminya menjalin hubungan dengan wanita lain?sakit itu pasti ada, tapi saya memutuskan untuk bertahan karena status sosial.

Tepat 7 tahun setelah itu, saya lalui dengan sakit yang tertahan dan maaf yang saya selalu berikan,semakin terbiasa hidup saya dengan kapal yang saya naiki tapi selalu terbentur batu karang. Saat putra kedua kami lahir, rumah mungil kami berdiri kokoh, kendaraan pribadi terpampang di depan pelataran, saat itu juga mulai surga itu kutemui.

Surga????

Iya surga,,,surga yang diberikan suamiku. Dia menjalin hubungan dengan seorang wanita yang kini menjadi istrinya, wanita itu mengaku hamil dan suami saya bersimpuh di hadapan saya di kedua kaki ini yang sekarang sudah menjadi kepala dan kepala saya sudah menjadi kaki.

Entah kekuatan dari mana saya memaafkan dia, saya akan selalu menjadi istrinya apapun yang terjadi. Tapi mata batin saya tidak serta merta buta, pendidikan saya cukup untuk bisa lebih bijak. Suatu hari saya berkata “pi (papi itulah panggilanku kepadanya) kalau memang wanita itu hamil, dan dia mengandung anakmu, saya rela menjadi saudarinya, nikahilah dia dengan baik, saya ikhlas menjadi istri pertama diantara istri2mu kelak” pecah air matanya saat itu,dia menolak,tapi ku berikan kekuatan bahwa jika saya mampu maka papipun pasti mampu.

“Tapi dia tidak mau jadi istri kedua” jawabnya dengan cucuran air mata, “jika memang dia tidak mau jadi istri kedua, kau ceraikanlah aku, karena dengan demikian telah sampailah aku menyelamatkan anakmu yang ada diperutnya” tegasku

Tanpa satu katapun dia peluk saya dan meminta maaf, atas segala salahnya pada saya. Dengan hati lega saya lepaskan dia untuk anak yang dihasilkan olehnya walaupun saya tidak tahu dia benar hamil atau tidak, itu anaknya atau bukan. Satu yang terlintas dalam benak saya, dia pantas mempertanggung jawabkan segala kesalahannya yang telah dia lakukan dan anak itu berhak atas dirinya.

Teruntuk mantan suami saya maafkan jika saya menulis ini, ini hanya untuk kaca mata banyak wanita, bahwa kesholehahan wanita ada pada bagaimana dia bisa menyikapi masalah, apalagi masalah suaminya sendiri. Ketaatannya ada pada dirinya bagaimana bisa ikut bertanggung jawab hasil buah cinta suaminya dengan wanita lain.

Teruntuk saudariku ( istri mantan suamiku) bukan saya mengusikmu tapi ini adalah sebuah cerminan diri, bahwa wanita itu semua adalah saudara dan dia patut selalu menjadi saudara selamanya, apapun kisahnya dimasa lalu.